Latest News
Wednesday, 13 September 2017

Kumpulan Puisi: Sebuah Pesan dari Pengemis Tua

Sebuah Pesan dari pengemis tua
oleh: Ulfah DM


Menatap langit sambil berpejam mata
Menikmati daging meski hanya aroma
Mengais dan mengumpulkan suka
Berharap Tuhan memberi sisa rizkinya

Menembus dingin tanpa alas kaki
Bersahabat dengan hujan tanpa pamrih 
Menikmati kencangnya angin dengan  senang hati
Siapa tahu angin dapat membungkam perut  yang meronta?

Si Pengemis masih semangat menari
Memetik nada riang tanpa henti
Menyanyikan melodi yang tak berharmoni
Tak ada yang tahu kalau-kalau ia esok sudah mati?

Katanya... Jangan pernah kau putuskan asa
Temukan bongkahan harapan dan mimpi
Abaikan jutaan cibir di muka bumi
Menarilah, walau saluruh dunia memaki



Rasa
oleh:  Ulfah DM

Aku Terbelenggu oleh sebuah rasa
Menatapmu tanpa bisa berkata-kata
Terjebak bersama fantasi tentang dirimu
Menanti sebuah harapan yang semu

Aku tak berniat bungkam di depanmu
Aku hanya menimbang rasa dan kenyataan
Ada senja yang lebih indah di samping mu
Dan memaksaku tuk hentikan harapan

   Aku bersimbah rindu menantimu
   Menerka dirimu yang masih abu-abu
   Begitu banyak rasa membuatku tenggelam
   Itu sebabnya aku memilih diam

  Namun Kau tetap saja fana
  Kau tak pernah jadi nyata
  Sebab kau hanya sebuah rasa

  Akhirnya... Aku juga yang terluka
          



Susu Terakhir
Oleh: Banyu Bening 
 
sumber gambar media remaja
Nyaring tangis itu membuat kakaknya bingung
Bangun dengan sisa kantuk yang menggantung di kelopak matanya yang mulai ranum
Melirik meja 
Kotak susu tertembak tatapnya

Dibukanya
Diperkirakannya hanya dua kali lagi
Sembari mengaduk susu, diliriknya jam dinding berdebu di atas lemari
Mama belum kembali

Adiknya sudah tenang
Ia kembali rebahkan badan
Angin subuh membangunkan bulu romanya
Kalau di rumah neneknya, pasti ayam sudah bersautan

Mentari sudah kembali menyombongkan diri
Memanggang mereka yang disebut rakyat miskin
Mengisap seluruh keringat demi nasi
Ah mama pasti tak kembali

Kembali ia membuatkan susu adiknya
Susu terakhir, batinnya
Samar bang Roni teriak dari luar
"Anti, mamamu kena razia semalam"

Malang, 21 Des'15 (23:31)



Satu Sosok
Oleh: Nurhidayah Tanjung

Satu sosok yang terlalu sering terlupakan
Matanya yang menentramkan, dan wajahnya yang meneduhkan
Kelembutan lebih sering dia sembunyikan

Bagian dari hidup adalah kehidupan
Menyusuri berbagai langkah yang berkelok
Kau lebih sering terdiam, tidak ikut campur dan terkesan cuek
Kau lebih sering marah memuncak ketika kesalahan terjadi

Mungkin rasa sayangmu lebih dari itu
Pundak kuat, tangan kekar
Selalu setia menggendongku, menggandeng dengan erat
Banyak hal dan tujuan yang selalu kau kesampingkan demi keluarga
Biarlah hanya ada cinta di hidupku, tapi jangan sampai kau kehilangan cinta keluargaku
Biarlah hanya ada sepi di hidupku, tapi jangan sampai kau kesepian keluargaku

Bengkulu, 30 Agustus 2017



Anugerah
Oleh: Nurhidayah Tanjung

sumber gambar http://blogitarossi.blogspot.co.id

Hujan memecah hening, memberi rasa
Perlahan, kita menjadi cinta
Bukan pada rasa, tapi pada semesta
Atau barangkali pada angkasa
Tapi kau bilang kita telah jatuh cinta, pada Tuhan yang memberi hujan pada kita
Karena ini anugerah Sang Pencipta


Bengkulu, 6 Februari 2017


  • Blogger Comments
  • Facebook Comments
Item Reviewed: Kumpulan Puisi: Sebuah Pesan dari Pengemis Tua Rating: 5 Reviewed By: Unib Kita