Latest News
Sunday, 27 August 2017

Cerpen: "Negeri Sejuta Pelangi" oleh Septiani


Lengkungan warna-warni terpampang indah di langit sore Kurau, sebuah desa di Kabupaten Bangka Tengah. Goresan warna jingga di langit terpaut indah dengan lengkungan warna-warni. Aku menyusuri jalanan Kurau lalu berhenti di jembatan perbatasan antara Kurau Barat dan Kurau Timur.

sumber gambar: dormiret.wordpress
com

“Ocha, sedang apa kamu di sana? Ayo kita pulang. Orang tuamu sudah menunggu,” seru sahabatku, Intan. Tampak Stevi melambaikan tangan padaku. Seutas lengkungan manis terukir dibibirku. Sudah lama sekali ya teman-teman, ucapku dalam hati.
***
Seberkas sinar matahari masuk melalui celah jendela kamarku. Aku mengerjap-ngerjapkan mataku. Lalu meregangkan otot-otot tubuhku. Aku melirik jam dinding kamarku. Pukul 07.00 WIB. Pantas saja sinar matahari masuk ke kamarku.
“Ocha, bangun nak. Sudah siang,” panggil ibu.
“Iya, bu,” sahutku.
Aku mengucir rambutku lalu merapikan bajuku yang berantakan. Aku membuka jendela kamarku. Angin pagi yang sejuk menerpa wajahku. Kedamaian tersisip dalam hembusannya. Kulihat anak-anak kecil berlarian di sepanjang jalan sambil bersenda gurau. Mereka bertelanjang dada. Mereka berhenti tepat di jembatan Kurau. Lalu terjun ke air sambil tertawa riang. Aku tersenyum penuh arti melihat mereka.
***
Intan, Stevi, dan Ocha berlarian kecil sambil bersenda gurau ke jembatan Kurau. Mereka berhenti lalu mengatur nafas mereka yang tersengal diiringi dengan tawa kecil yang tiada henti. Mereka lalu terdiam memandangi langit Kurau. Angin laut menerpa wajah mereka. Terlihat lengkungan manis terukir di bibir mereka.
“Intan, Stevi, kita terjun yuk. Ocha mau berenang,” ajak Ocha.
“Ayuk, Intan juga mau berenang,” sahut Intan.
Stevi bergidik ngeri. “Teman-teman, kalian aja yang berenang. Stevi gak ikut.”
Intan dan Ocha berpandangan. Lalu mengangguk bersamaan. Intan dan Ocha menghampiri Stevi lalu menyeringai. Stevi mundur beberapa langkah. Namun terlambat. Byuurr... Stevi pun jatuh ke dalam air karena didorong oleh Intan dan Ocha.
***
“Ocha,” panggil Intan dan Stevi bersamaan.
Aku menoleh ke pintu. Tampak Intan dan Stevi menyeringai lebar. Stevi melambaikan tangan padaku. Kulihat ia membawa sesuatu dalam kantong hitam. Aku menghampiri mereka.
“Masuk aja. Apa yang kamu bawa Stevi?” tanyaku.
Stevi mengangkat bawaannya lalu memberikan padaku. “Ini kue jongkong dan kue rintak sagu. Kita makan bareng ya.”
Intan mengancungkan jempolnya. Aku hanya tersenyum lalu mengangguk.
***
Aku dan Intan tertawa tak henti-hentinya. Stevi merengut kesal. Ia melipat tangannya lalu berkata,”Itu semua karena kalian mendorongku. Untung saja aku masih hidup.”
Intan mengambil sebuah kue rintak sagu dan menggigitnya lalu berkata, ”Maaf deh. Waktu itu kan kita masih 5 tahun. Kami kan nggak tahu kalau kamu nggak bisa berenang.”
Stevi memukul lengan Intan. Tawa Intan semakin meledak melihat Stevi memonyongkan bibirnya. Aku tersenyum kecil melihat mereka lalu mengambil sebuah kue rintak sagu dan kue jongkong dan memperhatikannya. “Kalian tahu nggak kenapa kue rintak sagu dan kue jongkong ini sangat enak?” tanyaku.
Intan dan Stevi memandangiku. Mereka mengerutkan kening. Bingung. Aku tersenyum lalu berkata,”Kue rintak sagu dan kue jongkong enak karena kue ini dibuat dengan alami dan sederhana, tidak neko-neko dan berlebihan. Bukankah sesuatu yang tidak berlebihan akan mendatangkan kebaikan? Kue rintak sagu dan kue jongkong ini seperti negeri kita. Kalian mengerti kan maksudku.”
Intan dan Stevi manggut-manggut. “Iya ngerti kok.”
Ibuku lalu menghidangkan lempah darat dan lempah kuning pada kami. Harum masakan ibuku menggelitik hidungku sehingga membuat perutku meronta-ronta. Aku langsung menyendokkan nasi.
“Loh, Stevi. Lempah kuningnya kok nggak dimakan. Ikannya masih segar loh,” ujar ibuku.
“Stevi gak suka makan ikan, bu,” jelas Stevi.
“Loh Stevi kan tinggal di Bangka Belitung. Ini kan makanan khas kita.”
“Stevi bukan orang Bangka, bu. Dia kan orang China. Hayo Stevi kamu pindah aja ke China,” ujar Intan sambil tertawa kecil.
Stevi menoyor bahu Intan. “Enak aja. Aku kan lahir di Bangka juga. Berarti aku orang Bangka. Aku kan hanya keturunannya saja bukan orang China. Lagian aku cuma nggak makan ikan kok. Makanan bangka yang lain aku makan.”
“Udah dong. Udah laper nih,” kataku sekalian menghentikan perdebatan Intan dan Stevi.
Mereka berdua berhenti lalu sibuk mengambil lauk pauk. Aku menyendokkan sesuap nasi lalu memakan lempah darat. Rasa asin dari garam dan belacan (terasi) serta rasa pedas dari cabe rawit bersatu padu. Aku melahap habis makananku tanpa tersisa sedikit pun. Kulihat piring Intan dan Stevi juga bersih tak tersisa. Entah karena lapar atau masakannya enak.
“Kalian bertiga tahu nggak makanan yang kalian makan ini punya maknanya loh. Makanan ini menggambarkan masyarakat Bangka Belitung itu praktis, tidak rumit, sangat menghargai waktu, hemat, dan ekonomis. Jadi kalian jangan hanya merasakan kesedapannya saja. Hayati juga maknanya agar kalian nanti jadi orang yang berguna di masa depan,” nasehat ibuku.
Kami bertiga manggut-manggut tanda mengerti. “Apakah cuma makanan Bangka yang memiliki makna, bu?” tanyaku.
“Nggak sayang. Makanan dari daerah lain juga ada maknanya. Tapi karena kita tinggal di Bangka. Jadi cuma makanan Bangka yang ibu tahu.”
“Stevi kamu kenapa? Ih, Stevi nangis. Stevi cengeng deh,” ledek Intan.
“Bukan tau. Aku nangis karena kepedasan. Lempah daratnya pedas banget,” sanggah Stevi.
Aku tertawa melihat mereka bertengkar. Mereka memang begitu. Sebentar lagi juga akur lagi. Aku melihat masakan ibu yang masih tersisa. Satu lagi hal yang tak ingin kulupakan.
***
Titik-titik air yang menetes dari langit perlahan mulai berhenti. Aku tersenyum. Aku menyeret koperku lalu melangkah ke jembatan. Dan benar saja sebuah lengkungan warna-warni telah bertengger manis di langit Kurau. Negeri sejuta pelangi, ucapku dalam hati. Kutulis sesuatu pada buku-ku. Kulihat kapal-kapal mulai bepergian untuk mencari ikan. Kulambaikan tangan pada kapal-kapal itu lalu menyeret koperku untuk kembali.
***
Negeri sejuta pelangi tersayang,
Kalian tahu kenapa negeri ini disebut negeri sejuta pelangi? Bukan karena ada jutaan pelangi loh. Itu karena banyak etnis yang mendiami negeri ini dan banyak kebudayaan dari masing-masing etnis yang mewarnai negeri sejuta pelangi. Seperti pelangi yang memiliki warna beragam. Semakin beragam warnanya semakin terlihat indah karena warnanya bersatu padu saling melengkapi.
Itulah yang aku suka dari negeri ini. Meskipun aku telah mengembara ke negeri lain. Meskipun banyak keindahan yang mengagumkan di negeri lain. Meskipun banyak pelangi yang terbentuk di negeri lain. Aku tetap mencintai pelangi yang terbentuk di negeri ini.
Layaknya hujan yang tak akan berarti apa-apa tanpa pelangi seperti itulah kecintaanku pada negeriku. Disini aku berdiri untuk menyaksikan pelangi sebelum aku kembali mengembara agar aku tak lupa bahwa aku berasal dari negeri sejuta pelangi.***


Lokasi: Desa Kurau, Bangka Tengah, Bangka Belitung, Indonesia
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments
Item Reviewed: Cerpen: "Negeri Sejuta Pelangi" oleh Septiani Rating: 5 Reviewed By: Septiani _