Latest News
Saturday, 27 May 2017

[Cerpen] Secuil Kisah


Inilah aku. Seorang gadis dalam peraduan nasib. Yang berkelana seorang diri di daerah orang. Demi memintal benang-benang impian untuk merajut masa depan.
***
Seorang gadis duduk di sebuah danau sambil melempar sebuah batu ke air. Pandangannya tertuju pada air yang beriak karena lemparan batunya. Beberapa kali ia menghela napas. Lalu mengedarkan pandangannya ke langit. Biru sekali tanpa ada tanda-tanda jajahan dari awan-awan hitam. Ia lalu berbaring di atas rumput dan meletakkan tangannya di atas mata untuk menutupi silaunya pancaran cahaya matahari.
“Kamu payah,” ujar seseorang.
Gadis itu terperanjat. Ia lalu beranjak dan mendapati seorang laki-laki sedang duduk di sampingnya sambil menatap tajam ke arahnya. Gadis itu mengerutkan keningnya.
“Kamu siapa?” tanya gadis itu.
“Kamu tak perlu tahu siapa aku. Sekarang yang harus kamu lakukan. Kamu harus bangkit. Jangan pedulikan mereka yang memandang sebelah mata pada dirimu,” ujarnya.
“Darimana kamu mengetahuinya?” tanya gadis itu terkejut.
Laki-laki itu tersenyum lalu berkata, “Kamu akan tahu suatu hari nanti. Yang penting lakukan saja apa yang aku katakan.”
Gadis itu berpikir sejenak. Ketika dia hendak menanyakan sesuatu laki-laki itu telah raib. Tinggallah ia sendiri dalam tanda tanya yang besar.
***
Mereka mentertawakannya lagi. Mereka mengerumuni gadis itu sambil menghujatnya. Gadis itu hanya melipat kakinya. Ia merasa kecil dan terpuruk.
Sebuah tangan menariknya keluar dari kerumunan itu. Gadis itu menatap pemilik tangan itu. Ia merasa tidak asing. Tetapi ia lupa dimana pernah berjumpa dengan pemilik tangan itu.
Mereka berhenti di sebuah bangku taman sekolah. Gadis itu lalu duduk sambil memicingkan mata. Berusaha mengingat dimana ia pernah berjumpa dengan laki-laki yang menyeretnya keluar dari kerumunan.
“Bukankah aku pernah mengatakan padamu? Kamu harus bangkit. Tulikan telingamu dari perkataan mereka yang memandang sebelah mata pada dirimu,” ujar laki-laki itu sambil menatap ke arah gadis itu.
Gadis itu ingat dimana ia pernah berjumpa dengan laki-laki itu. Tetapi bukan itu yang penting. Ada hal lain yang ingin ia tanyakan.
“Kenapa kamu bisa tahu?” tanya gadis itu.
“Karena aku adalah kamu,” ujar laki-laki itu.
Gadis itu mengerutkan keningnya. Ia tidak mengerti dengan perkataan laki-laki itu. Ia hendak mengatakan sesuatu tetapi lelaki itu menyela.
“Aku tahu apa yang kamu pikirkan. Sekarang bukan itu yang penting. Lakukan apa yang pernah aku katakan,” ucap laki-laki itu.
Gadis itu menunduk. “Aku tak bisa.”
Laki-laki itu memegang kedua pundak gadis itu lalu memandangnya lekat-lekat. “Aku tahu kamu pasti bisa. Jangan tanyakan kenapa aku bisa mengetahuinya. Tetapi yakinlah pada dirimu kamu akan menggapai apa yang kamu inginkan. Kuncinya hanyalah percaya pada dirimu dan berusaha.”
Mata laki-laki itu seakan memancarkan energi yang kuat. Ada sebuah perasaan aneh yang membuat gadis itu percaya pada dirinya lagi. Lengkungan manis kembali mengukir wajah gadis itu. Laki-laki itu juga ikut tersenyum. Matanya yang dulu meredup mulai berbinar terang, Sebuah pengharapan muncul dari bola mata gadis itu.
***
Inilah aku. Seorang gadis dengan sejuta mimpi yang berhasil bangkit dari lembah berduri. Mimpiku untuk mengukir lembar sejarah telah terwujud. Dengan imajinasi-imajinasiku, aku ingin mereka mengenangku dalam rangkaian-rangkaian kata yang kubuat.
Inilah aku. Seorang gadis pengelana yang bersua melalui kertas dan tinta. Mimpiku untuk menghasilkan karya telah terlaksana.
Aku teringat. Aku ingin berterima kasih padanya. Laki-laki yang membangkitkan semangatku. Tetapi aku menyadarinya. Sesungguhnya ia tak pernah ada.***
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments
Item Reviewed: [Cerpen] Secuil Kisah Rating: 5 Reviewed By: Septiani _