Latest News
Thursday, 20 October 2016

Bangku Keramat [Cerpen]



sumber: pinterest.com
Sebuah mobil ambulans melaju dengan kencang di tengah keramaian kota. Kendaraan itu pun tiba di sebuah sekolah berarsitektur bangunan Belanda. Petugas medis bergegas memasuki bangunan itu. Beberapa saat kemudian, mereka telah keluar dengan membawa jenazah seorang anak. Petugas medis itu lalu membuka bagian belakang mobil dan meletakkannya pada pembaringan. Mereka lalu bergegas meninggalkan sekolah itu.
            Di saat yang bersamaan, petir mulai menyambar. Awan-awan di langit pun tak kuat lagi membendung jutaan butiran air. Awan pun menitikkan sedikit demi sedikit air. Semakin gelapnya malam hari semakin deras pula hujan bersamaan dengan petir yang tiada henti terus menyambar.
***
Aku melangkah dengan semangat. Hari ini adalah hari pertama masuk sekolah setelah lamanya liburan sekolah. Aku bergegas mencari kelasku yang baru. Dan aku menemukannya. Kelas IX B. Sebuah bangunan kelas yang berada di ujung dan berdekatan dengan WC dan Kantin. Dua kelas lainnya juga berjejer di deretan kelas IX B.
Aku memasuki kelas baruku. Kulihat sebagian bangku telah ditempati. Aku celingak-celinguk mencari bangku yang menurutku strategis. Aku menemukannya. Sebuah bangku baris ke-3 dan kolom ke-3. Di bangku itu tertulis No.13. Mungkin penghuni sebelumnya menyukai angka 13. Aku lalu meletakkan tasku dan bersiap untuk duduk.
“Jangan duduk di situ!” perintah seseorang. Kuurungkan niatku untuk mendudukinya. Aku lalu menoleh. Rupanya dia adalah Odelia, temanku.
“Kenapa, Del? Apa ada yang salah dengan bangku ini?” tanyaku.
“Apa kamu tidak pernah dengar? Ada rumor yang beredar mengenai bangku itu,” ujar Odelia.
Aku menggeleng. “Rumor apa?”                
Odelia mendekatiku lalu menarik lenganku. Ia membawaku ke bawah pohon. Ia pun mulai bercerita.
“Lima tahun yang lalu, ada seorang siswi keturunan Belanda yang meninggal. Ia meninggal karena bunuh diri. Dan tragisnya, ia bunuh diri di bangku yang tadi. Ia menyayat pergelangan tangannya dan meninggalkan sebuah pesan darah yang berbunyi “Aku akan membunuh siapapun yang menduduki bangku ini”. Dari rumor yang beredar, katanya siswi itu bunuh diri karena ia dibully.”
Aku menatap Odelia lalu tertawa. Aku tertawa sampai perutku terasa sakit. “Hahaha... Kamu lucu banget sih, Del. Ada cerita yang lebih seram lagi gak. Masa seseorang yang meninggal bisa mengutuk sebuah bangku. Yang benar saja aku tidak percaya dengan ceritamu itu. Menurutku, siswi yang meninggal itu juga sangat bodoh. Masa cuma gara-gara dibully langsung bunuh diri. Ada-ada saja. Itu semua tidak masuk akal. Palingan rumor itu beredar cuma untuk cari sensasi doang.”
Odelia menatapku tidak senang. “Terserah padamu. Yang penting aku sudah mengingatkanmu.”
Bel tanda masuk kelas pun berbunyi. Aku masuk ke kelas dan tetap menduduki bangku itu. Aku menelusuri setiap jengkal bangku itu. Tidak ada mantra kutukan di sana. Aku tersenyum geli. Ada-ada saja, ucapku dalam hati.
***
Aku memadamkan lampu kamarku, bersiap untuk tidur. Aku lalu merebahkan diri di atas ranjang. Tanpa kusadari, aku pun mulai terlelap. Tiba-tiba, terdengar suara benda yang dilemparkan. Seketika aku langsung terbangun. Aku lalu menyalakan lampu kamarku.
Gorden jendelaku berkibar-kibar ditiup oleh angin. Tampak olehku jendela kamarku terbuka. Aku menggaruk kepalaku. Seingatku aku sudah menutup jendela kamarku. Lantas kenapa terbuka lagi? Keningku berkerut mempertanyakannya.
Aku lalu menutup kembali jendelaku. Tetapi kuurungkan niatku ketika kulihat sebuah gulungan kertas terselip di jendelaku. Kuambil kertas itu lalu menutup jendela kamarku kembali. Kubuka gulungan kertas itu. Sebuah tulisan bertinta merah tertulis di sana. Tulisan itu berbunyi “I Choose You”. Aku membolak-balikkan kertas itu. Aku tak mengerti maksudnya. Aku lalu membuangnya dan kembali melanjutkan tidurku.
***
Aku mengerutkan keningku ketika kulihat teman-temanku mengelilingi bangkuku. Aku bergegas menghampiri mereka. Betapa terkejutnya aku, sebuah tulisan merah tertera di bangkuku. Tulisan itu ditulis dengan darah dan terdapat sebuah boneka beruang yang berlumuran darah dengan pergelangan tangan yang tersayat. Bunyi tulisan itu “I Choose You”. Deg! Bunyi tulisan itu sama dengan tulisan yang kudapat semalam.
Aku lalu mengeluarkan tissue-ku. Kemudian membersihkan tulisan darah itu. Kurasakan mataku mulai panas. Sedikit demi sedikit air mataku mulai menetes. Aku bertanya-tanya apakah kutukan itu akan benar-benar terjadi. Di sela-sela tangisku, kulihat sebuah bayangan hitam tersenyum padaku. Seketika aku pun langsung terjatuh tak sadarkan diri.
***
Aku merapatkan selimutku. Aku tak tenang karena kejadian kemarin malam dan tadi pagi. Aku berusaha memejamkan mataku dan berharap akan segera terlelap. Tetapi aku salah besar. Semakin aku berusaha menutup mataku, aku semakin sulit untuk tidur.
Biiiip! Sebuah pesan masuk. Tak ada nama pengirim yang tertera di layar HP-ku. Aku lalu membuka pesan itu dan membacanya. Deg! Jantungku langsung berdegub kencang. Aku lalu bergegas beranjak dan memakai jaketku. Aku harus ke sekolah. Sekarang juga, ucapku dalam hati.
***
Aku menyusuri lorong-lorong kelas. Gemerisik angin bertiup lembut. Aku menelan ludah. Bulu kudukku mulai meremang. Tetapi kuberanikan diriku. Tadi aku mendapat sebuah pesan dari Odelia. Ia bilang ia butuh bantuan di sekolah. Tanpa pikir panjang, aku langsung bergegas ke sekolah.
Sebuah bayangan melintas di depanku bersamaan dengan terdengar teriakan Odelia. Aku pun berlari menuju sumber suara. Tak kuhiraukan kakiku yang mulai bergetar. Yang lebih penting aku harus cepat.
***
Sebilah pisau kutodongkan pada Fiona. Ia tak berkutik. Aku lalu menuntunnya ke bangkunya. Kunyalakan lampu kelas sehingga ia bisa melihat wajahku dengan jelas. Aku tersenyum sengit sambil memainkan pisau dengan jariku. Raut wajahnya menandakan ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Rasanya aku ingin tertawa dan meledakkan tawaku di hadapannya.
“Kenapa kamu lakukan ini, Odel? Bukankah aku sahabatmu?” tanya Fiona dengan suara yang gemetar.
Sekarang aku benar-benar ingin tertawa. Tak tanggung-tanggung aku langsung meledakkan tawaku padanya. “Sahabatmu? Awalnya aku memang menganggapmu sahabatku. Tetapi semuanya berubah ketika kamu mentertawakan kakakku.”
“Kakakmu? Bukankah kamu tidak punya kakak?” tanyanya lagi.
Aku memandanginya sinis. “Siswi yang meninggal 5 tahun yang lalu adalah kakakku. Awalnya aku berniat menghindarkanmu dari rencanaku. Tetapi kamu sendiri yang membuat dirimu terpilih. Tentu saja aku tak akan menyia-nyiakannya.”
“Rencanamu? Apa maksud semua ini?”
“Aku yang telah menyebarkan rumor itu. Aku juga yang mengirimimu pesan berdarah itu. Semua itu kulakukan untuk kakakku. Dan kamu akan menjadi korban kakakku yang ke-13.”
Aku mengarahkan pisauku pada Fiona lalu menyayat pergelangan tangannya. Ia meringis kesakitan. Darah segar menetes. Aku tersenyum bahagia. Aku menghirup aroma kehidupan dari darahnya.
Sebuah bayangan hitam menghampiri Fiona. Bayangan itu lalu menggerogoti pergelangan tangan Fiona dan menghisap darahnya hingga tak tersisa satu tetes pun.
Perlahan bayangan itu mulai berubah menjadi seorang anak perempuan yang cantik. Aku tersenyum senang. Ia menjilati sisa darah di mulutnya lalu tersenyum padaku.
Welcome back, sister,” ujarku.
Thank you, sister,” ujarnya.
Kami lalu beranjak meninggalkan ruangan kelas itu. Tawa bahagia kami menggema di lorong-lorong kelas. Sedangkan Fiona, tubuhnya memutih dan perlahan mulai berubah menjadi debu hingga tertiup oleh angin dan lenyap. ***




  • Blogger Comments
  • Facebook Comments
Item Reviewed: Bangku Keramat [Cerpen] Rating: 5 Reviewed By: Dunia Imaji Sept