Latest News
Sunday, 14 February 2016

Pesan Untuk Mahasiswa (Part I)

Ilustrasi Aksi Mahasiswa via suarakomunikasi.com

Unibkita.com -- Pesan Untuk Mahasiswa dari Bang Emil Negawaran
Kau ingin jadi apa ? Pengacara, untuk mempertahankan hukum kaum kaya, yang secara inheren tidak adil ? Dokter, untuk menjaga kesehatan kaum kaya, dan menganjurkan makanan yang sehat, udara yang baik, dan waktu istirahat kepada mereka yang memangsa kaum miskin ? Arsitek, untuk membangun rumah nyaman untuk tuan tanah ? Lihatlah di sekelilingmu dan periksa hati nuranimu. Apa kau tak mengerti bahwa tugasmu adalah sangat berbeda: untuk bersekutu dengan kaum tertindas, dan bekerja untuk menghancurkan sistem yang kejam ini ?


-Victor Serge 


Jika kita menghamba kepada ketakutan, kita memperpanjang barisan perbudakan

-Wiji Thukul  


Apabila KEBAIKAN telah kurang diamalkan maka dia menjadi KEJAHATAN, dan apabila KEJAHATAN telah tersebar maka dia menjadi KEBAIKAN 

Untuk kau yang mengaku sebagai mahasiswa, jalanan itu jadi saksi bisu. Diatasnya terekam banyak sekali jejak kaki. Kaki para anak muda yang menyimpan amarah dahsyat dan benci yang tinggi. Terutama pada kekuasaan para jahanam yang mengabaikan keadilan. Keadilan itu bukan saja tak dipenuhi tapi juga di khianati. Katanya negara ini adalah negara hukum, dan hukum selalu saja di puja-puja namun hukum itu hanya menjadi alat untuk para penguasa dan yang memiliki uang saja, selalu saja mereka yang mendapatkan perlakuan yang istimewa. Seandainya mereka dipenjara pun karena tersandung sebuah kasus, penjara mereka tetap saja lebih baik dari rumah kita, fasilitas mewah tersedia didalamnya sehingga apapun yang mereka butuhkan pasti akan selalu tersedia. Bahkan tidak jarang kita mendengarkan dari berita mereka dengan sangat mudah mendapatkan pemendekan hukuman. 

Lihatlah mereka ditelevisi, mereka sangat percaya diri. Dengan membawa seorang pengacara yang katanya kuliah untuk membela kebenaran malah membela siapa yang kaya, dengan banyak bicara seolah mereka benar saja. Pak hakim pun dengan mudah berkilah yang salah siapa, yang pastinya yang tidak memiliki uang. Dan pengacara, hakim serta si terdakwah menjadi sebuah sinetron yang selalu saja berakhir bahagia. 

Tapi lihatlah, mereka yang sudah tua dan hanya hidup seorang diri di penjara seumur hidup hanya karena mencuri sebuah singkong yang singkong itu diambilnya hanya untuk menghilangkan sedikit rasa lapar yang ada diperutnya. Itu salah siapa ? bukankah negara sudah mengatur jika fakir miskin di lindungi negara ? tapi apa ? nenek itu akhirnya di jatuhi hukuman seumur hidup oleh sang hakim yang katanya selalu bijaksana, yang selalu ingin dipanggil sang mulia ? 

Mahasiwa, itu semua salah siapa ? salah siapa ? salah mereka ? 

Tidak, itu salah mahasiwa yang diam saja ! 

Jalanan yang dipijak itu pernah menjadi panggung. Menjadi panggung buat siapa saja yang ingin menyuarakan ketidakadilan dan “keadilan” yang mereka inginkan. Tentang keadilan yang katanya semua air,tanah dan yang ada dibumi milik negara dan ternyata itu semua milik asing yang di kasih topeng negara. Tentang keadilan kaum kaya dan miskin yang memiliki kelas yang sangat jauh dari biasanya. Sistem kapitalisme yang dianut sudah meregut keadilan itu, yang kaya akan semakin kaya dan yang miskin malah semakin melarat. 

Siapa yang memiliki modal maka dialah yang menjadi raja dan yang hanya punya tenaga maka dialah yang menjadi budak para raja. Diantara kekejaman itulah maka protes dan perlawanan mesti didengungkan di panggung jalanan, panggung yang tidak pernah mengkhianati para pemanggung, yang selalu siap untuk dipakai siapa saja dan kapan saja asalkan untuk kebaikan bersama. Para pemanggung pun melantunkan bunyi-bunyi protes dan perlawanan. Mereka melakukan sikap yang dulu sempat langka: kembalikan kedaulatan ke tangan rakyat dan hancurkan sistem kapitalisme yang memberi hak istimewa kepada mereka yang punya uang saja. 

Jalanan itu juga merekam jutaan baku tembak dari para aparat bersenjata kepada anak muda yang hanya memakai baju lusuh dan berbadan lesu itu. Baju yang lusuh dan badan yang lesu tak menjadikan mereka takut akan peluru yang menghujam mereka, karena niat mereka sudah mendarah daging menjadi idealisme yang mesti diperjuangkan. Sebagian dari mereka bersimbah darah didadanya, tak tau darimana datangnya peluru itu tapi itu bukti jika para penguasa sudah kehabisan akal. Sampai saat ini setiap hari khamis tepatnya didepan istana negara para pejuang HAM tetap saja memperjuangkan hak mereka yang sampai saat ini tidak ada keadilan buat mereka padahal sudah bergonta ganti presidennya,apakah ini negara keadilan ? Jalanan sudah mengukir banyak peristiwa, kini jalanan menjadi tempat bertarung untuk para kriminal jalanan. Perkosaan diangkot hingga pembunuhan di halte telah menjadi berita harian dinegeri ini. Para saksi mata hanya bisa berdiam diri. Mayat bayi dibuang ke selokan bak ibarat bungusan sampah yang dibuang ke sungai. Semua hanya bisa termenung memperhatikannya. Karena bagi mereka lapor ke polisi akan mempersulit diri. Tak jarang pula jalanan menjadi persinggungan yang mewah dengan yang kumuh.



Sumber : http://www.kompasiana.com/bangemil/pesan-untuk-mahasiswa_56c04321be22bd8507a99bb0
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments
Item Reviewed: Pesan Untuk Mahasiswa (Part I) Rating: 5 Reviewed By: Unib Kita