Latest News
Wednesday, 24 February 2016

Derita Anak MIPA, Mesti Dibaca !!!


Unibkita.com || Ngapain kita kudu belajar rumus-rumus yang bikin murus itu? Toh dikehidupan sehari-hari juga ngak bakal ditanya. Kalau mau beli gorengan, penjualnya juga nggak mungkin nanya, kalau beli 1 bakwan dan 2 pisang goreng harganya 4000. Kalau beli 1 bakwan dan 3 pisang goreng harganya 5500, jadi berapakah harga 1 mendoan dan 1 pisang goreng? Hayo berapa mas? Nggak bakal kan kayak gitu?!!” Ketika mendengar ini saya ngikik.

Anyway soal-soal di Mipa itu jawabannya selalu pasti, jawaban yang benar cuma satu. Tapi sekalinya lupa rumus udah wasalam, nggak bisa dikarang-karang. Pernah saya nyoba kuliah lintas jurusan di Fakultas Sejarah. Pas ujian, soal- soalnya beda banget. Sejenis ini nih soal yang keluar, “bagaimana menurut pendapat anda....?”, “jelaskan argumentasi anda…”, “jelaskan analisis anda..” Itu tuh rasanya surga dunia.
 
Anyway saya cukup banyak mendengar curhatan teman-teman di MIPA. Mereka pada galau kenapa harus mempelajari rumus-rumus dan teorema-teorema yang serasa abstrak banget. Padahal itu rumus kalau beli bensin, gorengan atau main ke rumah mertua nggak bakal dipakai. Disini saya ingin menuliskan berbagai kegalauan anak mipa dan hasil perenungan saya kenapa kita harus menjalakan tanggung jawab kita disini. Tulisan ini based on pengalaman sendiri dan curhatan temen-temen. Jadi kalau kamu merasa kuliah di MIPA itu susah, jangan khawatir, kamu nggak sendiri! Banyak kok dari temen-temen yang sambat kalau kuliah di MIPA emang susah. Konon MIPA itu singkatan dari “Majelis Ilmu Paling Angel” :P. 
 
Baru-baru ini saya dicurhatin anak kimia tentang penelitiannya. Biasalah anak kimia harus penelitian dulu sebelum skripsi. Ketika penelitian, mereka harus nyari bahan. Kadang bahan baku dan zatnya ini susah di cari dan mahal harganya, terkadang mereka harus berbulan-bulan nunggu alat bila alatnya belum siap. Tak jarang ketika mereka sudah menghabiskan uang berjeti-jeti, dan sudah berbulan-bulan begadang di lab, ternyata hasilnya tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Rasanya itu nyesek banget.
 
Selain penelitian, yang susah itu dimasa kita skripsi. Kemarin sewaktu saya ke perpus , saya melihat banyak anak mipa yang nyantumin surat al insyirah di halaman motto. Seolah-olah mereka janjian untuk kompakan nyantumin ayat “Inna ma’al usri yusro, fainna ma’al usri yusro”,dibalik kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya dibalik kesulitan ada kemudahan” Mungkin saking susahnya kali ya? Btw saya termasuk orang yang juga merasa kuliah di MIPA itu susah banget. Butuh waktu 7 tahun lebih untuk bisa lulus. Di akhir masa studi, Alhamdulillah saya mendapat jawaban atas pertanyaan selamaa ini, kenapa proses studi yang susah ini harus saya jalani? Termasuk ngafalin rumus, ngegambar kurva yang nggak jelas bentuknya dan membuktikan teorema-teorema yang sangat rumit itu. 
 
Ceritanya begini, pada suatu hari dimana matahari tampak bersahabat, (sebenarnya saya juga heran kenapa kata-kata yang dipakai selalu matahari tampak bersahabat, kenapa nggak pernah matahari tampak pedekate atau matahari tampak PMS :p). Pada hari itu saya mengikuti suatu mata kuliah. Beberapa kali saya ngulang nilainya tetep sama, selalu dapat nilai Excelent (baca E). Sekeras apapun saya belajar, teori-teori itu bagi saya rasanya abstrak banget. Salah satu bahasannya adalah menentukan keluarga limit. Sampai sekarangpun saya masih belum paham kenapa limit harus dicari keluarganya. (Seolah-olah limit adalah anak yang lahir dari korban perkosaan sehingga kita harus nyari ayahnya). Sampai sekarang saya juga nggak paham dengan perhitungan matematisnya buat nentuin keluarga limit. Saya jadi khawatir, jangan-jangan sebentar lagi akan ada teorema buat nentuin mertua limit, tante limit, keponakan limit atau gebetan limit, hehehehe….
 
Mata kuliah tersebut merupakan mata kuliah yang menjadi momok bagi anak-anak di jurusan statis
tika. Tak jarang hampir separuh atau seluruh angkatan ngulang mata kuliah tersebut. Karena sudah berkali-kali ngulang dan bludrek dengan mata kuliah tersebut, di tengah-tengah pelajaran saya tunjuk jari nanya ke profesornya, “Pak…., boleh saya tanya, sedari dulu saya penasaran dengan teori, rumus dan formula matematika yang bagi saya masih terasa abstrak sekali. Apakah teorema-teorema tersebut ada kegunaan yang real di kehidupan kita?” 
 
Sebenarnya ada perasaan takut waktu melontarkan pertanyaan tersebut, saya takut kalau nanti profesornya jadi marah. Diluar dugaan, profesornya dengan bijaksana menunjukkan kepada saya kegunaan teorema-teorema matematika dalam aplikasi kehidupan. 
 
Waktu itu saya masih menyimpan satu pertanyaan lagi. Saya tanyakan pada professor, “Pak, bolehkah saya bertanya lagi. Bagaimana teorema-teorema atau rumus-rumus itu bisa tercipta. Mana yang muncul duluan adanya masalah yang memicu teorema. Atau teoremanya yang pertama kali ditemukan baru diketahui aplikasinya?” Saya bertanya karena keingat dengan teori relativitas Einsten dimana kita harus bisa memahami hasil gabungan dari imajinasi dan perhitungan matematikanya si Einsten. Si Einsten dan kawan-kawannya ini dengan sesuka hati berimajinasi terus saya yang harus nanggung deritanya gitu? 
 
Sang Profesor kemudian menjawab. Keduanya bisa terjadi. Ada yang masalahnya muncul lalu baru ditemukan teoremanya. Ada pula yang muncul teoremanya dulu dan baru kemudian diketahui aplikasinya. Lalu Profesor memberi saya contoh teorema yang ditemukan dulu dan kemudian baru bisa dipakai dalam aplikasi. Jangan tanya teorinya apa, saya lupa hehe…
 
Kemudian pelajaran yang paling berharga yang saya dapatkan saat itu, ketika professor membukakan slide. Sang professor termasuk salah satu tim dari komunitas ilmuwan-ilmuwan di Jepang, beliau dan rekan-rekannya mencoba menebarkan value yang menurut saya sangat berharga. Saat itu professor menjelaskan pada saya dan teman-teman di kelas. Sebagai seorang ilmuwan, termasuk ilmuwan science kita harus mengerti posisi dan kedudukan kita. Seorang pembelajar itu ada tingkatan- tingkatannya.
 
Di slide itu ditunjukkan, ada pembelajar yang hanya tahu pada taraf perhitungan, dia hanya bisa cuma menghitung, maka posisi dia berada di kedudukan paling bawah, fungsi dia sebagai alat saja yang digunakan oleh orang lain. Ada pula pembelajar science yang dia mengerti permasalahan sosial. Maka orang-orang seperti inilah yang bisa mencari solusi untuk permasalahan orang banyak/permasalahan sosial. Orang-orang seperti ini adalah penentu masa depan dunia. Begitu kata Professor. Jawaban professor tersebut berhasil menjawab pertanyaan yang sudah lama saya cari selama kuliah di MIPA.
 
Jawaban professor itulah yang akhirnya saya berikan kepada adik kelas saat dia protes. “Kalau kita sebagi anak statistic biasanya hanya dijadikan alat oleh orang lain untuk menghitung, kalau begitu kita sama saja seperti alat?” Mungkin maksud dia alat yang digunakan orang lain. Berarti kita ini sama kayak kalkulator, sama kayak excel atau sama kayak SPSS. Maklum kita sebagai anak statistic acapkali dimintai tolong buat olah data skripsi anak-anak jurusan lain. Saya membetulkan iya betul, kalau kita hanya belajar diktat dan duduk di kelas. Tapi saya ingatkan ke dia tentang profesor kita yang kemarin dimuat di surat kabar karena temuan beliau yang bisa memberi solusi pada kemacetan lalu lintas dengan perhitungan statistika. Ada pula yang bisa untuk mencegah krisis moneter. Semua tergantung kita. Begitu kataku. 
 
Dulu saya juga pernah diceritain sama dosen kalkulusku. Fyi kalkulus juga salah satu mata kuliah yang menjadi momok bagi kami. Mengulang mata kuliah kalkulus seakan-akan menjadi sesuatu yang wajar. Kalau nggak ngulang kalkulus malah rasanya nggak wajar. Oleh sebab itu kami menjuluki kalau kalkulus adalah singkatan dari nggak lulus. Saat itu dosen kalkulus sedang membahas masalah integral, itu lo yang simbolnya kayak kecambah nggak jelas. Dosen saya cerita, saat itu temannya bertanya-tanya berapa luas parkiran. Kebetulan luas areanya memiliki bentuk yang sangat tidak beraturan. Kalau nggak salah teman pak dosen tersebut perlu menaksir luas parkiran untuk menyediakan ubin. Dosen saya menghitungnya dengan aplikasi integral untuk mengukur satuan luas. Wah hebat euuy, saya yakin formula matematis itu pastilah ada kegunaannya di kehidupan sehari-hari, cuma saya aja yang nggak dong.
 
Pertanyaan protes adik kelas ini berawal dari pengamatan dia di organisasi kampus tingkat univ. Dia bilang anak-anak dari MIPA itu terkadang kurang lincah berdebat dan beragurmentasi. Terkadang Kemampuan verbalnya masih kalah kalau dibanding anak-anak sospol atau humaniora. Kemudian saya bilang ke dia mungkin karena di kelas kerjaannya coret-coret rumus di kertas melulu, tidak ada kesempatan yang banyak bagi kita untuk melatih kemampuan verbal sebagaimana anak sospol atau humaniora. Tapi meski begitu nggak menutup kemungkinan untuk bisa mempunyai leadership dan public speaking yang bagus. Banyak juga toh ketua-ketua BEM yang kece, terlahir dari anak science dan teknik. Jadi untuk melatih skill komunikasi kita sepertinya harus diimbangi dengan latihan sendiri di luar kelas. Kalau ini sudah dapet, bakalan jadi kece. Karena bisa menggabungkan kemampuan berlogika kita dengan kemampuan sosial. Seperti itulah kira-kira diskusi saya dengan adik kelas. 
 
Intinya saya berkeyakinan rumus-rumus yang ruwet itu memiliki andil besar dalam kehidupan, (meski saya nggak mudeng). Contohnya untuk membangun gedung, lift, escalator, jembatan tol itu semua tidak terlepas dari rumus-rumus matematis. Okey, itu fungsi matematis buat anak yang otaknya emang tokcer, kuliah di MIPA emang bisa membuka kesempatan besar untuk menjadi seseorang yang kontributif, istilah kerennya membangun masa depan peradaban bangsa. Nah terus bagaimana dengan mahasiswa yang otaknya nggak nyampek dan ngerasa memahami rumus matematis itu susahnya minta ampun?
 
Sabaarrrr ya sob, saya tahu perasaaan nggak dong pelajaran itu nggak enak banget. Ketika dosen menjelaskan di depan kelas, serasa kita seperti tersasar di planet lain, karena kita nggak paham apa yang dibicarakan dosen. Apalagi kalau harus ngulang sama adik kelas, itu nggak nyaman banget. Rasanya ingin sesegera mungkin mengakhiri semua penderitaan ini. Seandainya matematika itu manusia, rasanya ingin mengirim surat ini padanya:
Saya juga pernah bertanya-tanya pada diri sendiri. Terus apa gunanya orang seperti saya kuliah di MIPA? jangankan untuk mengembangkan teorema yang bisa menyelesaikan permasalahan sosial, memahami contoh soal saja rasanya susah bukan main. Lalu untuk apa? Dan pertanyaan itu kemudian terjawab kembali meski dengan sebuah kejadian yang tidak mengenakkan, kejadian yang cukup mengguncang jiwa saya. 
 
Ketika itu saya begitu menggebu untuk segera mengakhiri revisi skripsi saya, untuk mengakihiri penderitaan saya di MIPA. Saat itu saya revisi sama bu Matahari. Di pertemuan pertama saya ditanya, apa maksud parameter ini? Pulang dari kampus saya buru-buru mencari jawabannya di perpus, saya salin skripsi orang lain. Keesokannya saya udah nggak sabar buat nemuin bu Matahari untuk menyodorkan hasil temuan saya tersebut.
 
Bu Matahari menyuruh saya menjelaskan arti parameter tersebut secara lisan. Saya gelagapan ndak bisa menjelaskan, yang saya tulis hanya simbol-simbol matematis, saya juga nggak ngerti cara baca symbol-simbol itu mesti kayak mana. Saya hanya menyalin tanpa memahaminya. Ibunya kemudian bilang, “Maksud saya kemarin, saya nggak menyuruh kamu nambahin apapun, saya hanya ingin kamu bisa menjelaskan” Kemudian ibunya menghela nafas.
 
Kemudian ibunya berkata denga lirih dan pelan, “Kok hanya ngejar lulus sih mbak? Saya ini juga beban ketika meloloskan skripsi yang mbak nggak bisa pahami” Kemudian ibunya menjelaskan maksud parameter yang saya tulis tadi. Setelah itu skripsi saya Alhamdulilah langsung di ACC. Meski skripsi saya langsung di ACC, namun dalam hati saya masih ada ganjalan. Sampai sekarang saya masih ingat sekali, bagaimana ibunya menghela nafas, bagaimana ibunya berkata lirih, yang menurut saya kata-kata lirih itu seperti seorang ibu yang merintih kecewa dengan anak perempuannya. Bahkan dua hari paska saya ngadep ibuknya, seringkali wajah kecewa ibunya tiba-tiba bisa muncul di benak saya. Ketika saya di jalan lagi motoran, tiba-tiba muncul wajah Bu Matahari. Ketika saya makan saya liat wajahnya bu Matahari. Ketika lagi saya ngetik di depan laptop, tiba-tiba saya ngeliat wajah kecewanya ibu Matahari. Rasanya seperti orang setengah gila gara-gara terlalu terobsesi untuk segera lulus. Pada saat itu saya seolah-olah terlupa, sebelum lulus saya harus memenuhi kewajiban saya dulu.
 
Mungkin menjadi sifat manusia kali ya? Tatkala manusia sangat amat menginginkan suatu hal, biasanya ia menjadi terlalu terfokus dengan keinginannya sendiri. Begitu juga dengan seorang mahasiswa, acapkali ketika skripsinya ingin cepat-cepat selesai, ia jadi lupa bahwa dosen juga punya standar penilaian tertentu. Obsesi untuk segera lulus seringkali membuat kita lupa, hidup ini bukan hanya tentang mendapatkan apa yang paling kita inginkan saja, tapi bagaimana kita memikirkan kewajiban kita pada orang lain pula. Hidup ini tidak hanya tentang kepentingan-kepentingan kita saja, tapi juga tentang kepentingan orang-orang yang bersangkutan dengan kita.
 
Kejadian itu membuat saya ingat dengan nasihat sohib saya. Dia bilang gini ke saya, “Saya berharap kamu lulus din, dengan menjalani segala prosesnya dengan baik. Lulus dari mipa bukan berarti kamu hanya mendapatkan satu lembar ijazah. Namun ketika kamu lulus studimu disini, kamu telah latihan berproses untuk memenuhi tanggung jawabmu. Kamu bertanggung jawab menyelesaikan tugas-tugas dari dosenmu, termasuk ketika harus revisi skripsi. Menyelasaikan masa studi ini termasuk tanggung jawab dalam sekup terkecil Dini, ini masih tentang diri kamu sendiri. Nanti kalau kamu lulus kamu bakal terhubung dengan tanggung jawab yang lebih besar lagi, dengan keluarga atau perusahaan misalnya.” Nasehat dari teman saya juga berhasil memberi jawaban yang saya selama ini saya cari. Kenapa saya harus belajar susah-susah di MIPA, belajar pada hal yang bukan menjadi passion saya.
 
Jawabannya adalah KELULUSAN itu adalah amanah, kelulusan adalah tanggung jawab yang harus saya selesaikan. Bahwa hidup bukanlah hanya mengerjakan apa yang menjadi kesenangan kita saja, tapi juga mengerjakan apa yang menjadi tanggung jawab kita. Akan sangat mengerikan apabila kita hanya mengerjakan hal-hal yang kita sukai saja dan tidak mengindahkan segala tanggung jawab kita. 
 
Kita harus mau menjalani segala proses untuk memenuhi tanggung jawab kita. Saat kita mau berproses dalam memenuhi tanggung jawab-tanggung jawab kita, saat itulah jiwa kita ditempa. Jiwa kita ditempa saat kita menguat-nguatkan diri untuk begadang mengerjakan soal yang banyak. Soft skill kita ditempa untuk tidak menyerah ketika nggak bisa mengerjakan soal dan kita harus bertanya ke mana-mana. Hati kita juga ditempa. Termasuk ketika harus ngulang ama adik kelas, meski rasanya maluuuuu…. , termasuk menahan rasa malu ketika kita tahu bahwa kemampuan kita berada dibawah rata-rata kemampuan teman-teman kita di kelas.
 
Saya mikir, terkadang saya merasa kemampuan saya jauh dibawah teman-teman. Tapi saya ngerasa berada diantara orang-orang yang lebih pandai dari kita itu sekali-kali perlu, ngerasa bodoh dan betapa susahnya itu sekali-kali juga perlu. Untuk apa? Agar kita memiliki empati terhadap orang yang kesusahan. Di saat itu kita jadi tahu rasanya menjadi murid yang nggak naik kelas, atau bisa merasakan anak yang nggak bisa lulus dari ujian nasional. Sama halnya dengan jatuh, terkadang jatuh itu perlu, agar kita bisa belajar untuk bangun. Mengalami kesusahan itu juga perlu, agar kita belajar untuk tidak menyerah dalam menyelesaikan masalah.
 
Buat teman-teman yang ngerasa susah kuliah di MIPA, khususnya buat kalian yang sedang merasakan kesusahan dalam mengerjakan skripsi, semanggaaaattt dan selaammaaaattt. Selamat karena kalian sudah menjalani proses yang panjang. Kurang dikit lagi bro. Semangat karena memang banyak tantangan yang harus dihadapi. Btw kalau dipikir-pikir, masa-masa skripsi itu bagus juga lo. Kita jadi lebih dekat ke Allah, jadi banyak minta doa ke orang tua, kita jadi lebih bisa bersabar menghadapi banyak dosen. Terus pas skripsi kita jadi lebih banyak sabar karena bakal banyak mengurai derai air mata hahaha...
 
Pokoknya buat teman-teman yang ngerasa susah kuliah di MIPA, yang semangat ya.. Kalau kalian ngerasa kuliah di MIPA adalah amanah yang harus diselesaikan, cepat diselesaikan saja. Jangan terlalu molor kuliahnya. Itu sama saja memperpanjang penderitaan. Buat teman-teman yang merasa harus ganti jurusan dan memungkinkan untuk pindah jurusan, semisal orang tua menyetujui dan ada dana, yah cepat segera saja diputuskan mau pindah atau lanjut. Jangan biarkan diri kita berlama-lama dalam kegalauan.
Namun satu hal yang perlu kita ingat, jatuh bangunnya kita, berdarah-darahnya kita, bernanah-nanahnya hati kita, insya’allah nggak akan sia-sia. 
 Tidak ada yang sia-sia dari sebuah proses yang yang baik. Apalagi sebuah proses untuk memenuhi tanggung jawab kita
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments
Item Reviewed: Derita Anak MIPA, Mesti Dibaca !!! Rating: 5 Reviewed By: Unib Kita